Beriman Lalu Istiqamah


عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
رواه مسلم

Dari Abu ‘Amr -ada juga yang menyebutnya- Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu.” Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Advertisements

Pemuda Itu …

Dapat sebuah perkataan yang insyaa-allaah telah masyhur, yakni tentang pemuda.

كُنِ ابْنًا مَنْ شِئْتَ وَاكْتَسِبْ أَدَبًا ، يُغْنِيْكَ مَحْمُوْدُهُ عَنِ النَّسَبِ

إِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَاأَنَذَا ، لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَبِيْ

Jadilah kamu anak siapa saja tetapi hendaknya kamu belajar adab, dengan begitu kamu sudah terpuji tanpa perlu memerlukan nasab yang bagus lagi. Sesungguhnya seorang pemuda (yang baik) itu adalah yang mengatakan, “Inilah aku,” dan bukanlah pemuda (yang baik) itu yang mengatakan, “Bahwa ayahku begini begini.”

مَنْ كَانَ مُفْتَخِرًا بِالْمَالِ وَالنَّسَبِ وَإِنَّمَا فَخَرْنَا بِالْعِلْمِ وَالْأَدَبِ

لَا خَيْرَ فِيْ رَجُلٍ حُرٍّ بِلَا أَدَبٍ ، نَعَمْ وَلَوْ كَانَ مَنْسُوْبًا إِلَى الْعَرَبِ

Barangsiapa yang bangga dengan banyaknya harta dan nasab, maka sesungguhnya kebanggaan kami hanya dengan ilmu dan adab. Tiada suatu kebaikan bagi seseorang yang mereka jika tidak mempunyai adab, iya memang begitu, walaupun dia dari keturunan Arab.

Bid’ah Bulan Rajab

Tulisan di bawah ini merupakan terjemahan dari khutbah syaikh Muhammad Shalih bin ‘Utsaimin. Sumber dapat dilihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_468.shtml. Tidak seluruh khutbah diterjemahkan, hanya bagian akhir khutbah yang diterjemahkan. Apabila terdapat kekurangan / kesalahan terjemah, mohon koreksinya.

Segala puji hanyalah milik Allah, saya memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang diibadahi secara haqq kecuali Allah, yang Ahad tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Allah Ta’ala telah mengutusnya dengan petunjuk dan diyn yang haqq agar Dia memenangkannya di atas segala diyn, maka dia menerangkan yang haqq dan menjelaskannya, dan berjihad untuk Allah dengan sebenar-benar jihad. Maka shalawat dan salam Allah atasnya dan atas keluarganya, dan para shahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Sesungguhnya kita, wahai kaum muslimin, berada di bulan Rajab. Yakni salah satu dari empat bulan haram yang Allah firmankan tentangnya,

“Daripadanya ada tempat empat bulan haram.” (Qs. At-Taubah:36).

Maka janganlah engkau menganiaya dirimu di dalamnya (empat bulan tersebut), dan yang Allah Ta’ala telah haramkan di dalamnya berperang kecuali untuk membela diri. Inilah bulan-bulan yang salah satunya ialah bulan Rajab, tidaklah dikhususkan dengan sesuatu yang telah dijelaskan dari ibadah-ibadah, kecuali bulan Muharram, maka di dalamnya terdapat keutamaan berupa shiyam, dan bulan Dzulhijjah, maka di dalamnya terdapat penunaian ibadah qurban.

Sedangkan bulan Rajab, maka sesungguhnya tidak ada pengkhususannya berupa shiyam maupun qiyam, tidak ada hadits shahih dari nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Setiap hadits yang datang tentang keutamaan shalat di bulan rajab atau keutamaan shiyam di bulan rajab, seluruhnya merupakan hadits-hadits dha’if sekali, bahkan sebagian ulama telah mengatakan bahwa sesungguhnya hadits-hadits tersebut maudhu’ah (palsu) dan makdzubah (dusta) atas nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Maka tidaklah halal bagi seseorang untuk menyengaja (berbuat sesuatu) bersandar atas dasar hadits-hadits yang dha’if ini. Bahkan yang dikatakan sesungguhnya itu adalah hadits-hadits maudhu’, tidaklah halal bagi seseorang untuk menyengaja (berbuat sesuatu) atasnya, dan dia mengkhususkan bulan rajab dengan shiyam atau shalat. Tidak halal.

Karena itu adalah bid’ah, dan nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda, “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.” Dan aku telah mendengar bahwasannya sebagian saudara-saudara pendatang (imigran) ke negeri kita berpuasa hari kemarin dikarenakan hari pertama dari bulan Rajab dan sebagian mereka beralasan bahwa hal ini telah umum diketahui di antara mereka di negeri mereka.

Akan tetapi saya berkata kepada mereka sesungguhnya ini adalah bid’ah dan sesungguhnya tidak boleh seseorang untuk mengkhususkan suatu waktu ataupun tempat dengan ibadah yang Allah dan rasul-Nya tidak mengkhususkannya dengannya. Oleh karena kita beribadah dengan syari’at Allah, bukan dengan hawa nafsu kita dan bukan dengan kecenderungan kita dan keinginan kita. Sesungguhnya wajib atas kita untuk berkata “Kami mendengar dan kami taat, kami mengerjakan apa-apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa-apa yang Allah larang, dan kami tidak mensyariatkan diri-diri kami dengan ibadah-ibadah yang Allah dan rasul-Nya tidak mensyariatkannya.”

Sesungguhnya aku mengatakan kepada mereka yang haqq dengan jelas. Sesungguhnya bulan Rajab, tidaklah dikhususkan shalat di dalamnya, tidak di awal malam Jum’at nya, dan tidaklah dikhususkan shiyam di hari pertama dan tidak pula di hari-hari lainnya. Dan sesungguhnya bulan Rajab hanyalah seperti bulan-bulan lainnya dalam hal ibadah-ibadah. Dan sesungguhnya sekalipun dia merupakan salah satu dari empat bulan haram. Dan lupakanlah apa-apa yang dikatakan di dalamnya dari hadits-hadits dha’ifah (lemah) yang diriwayatkan dari nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bahwasannya dia berkata jika masuk bulan Rajab, Allaahumma baarik lanaa fiy rajab wa sya’baan wa ballighnaa ramadhaan. Ya Allah, berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban dan sampaikan kami di bulan ramadhan.

Akan tetapi, hadits ini wahai saudaraku, dan dengarkanlah apa-apa yang kukatakan, ini adalah hadits yang dha’if munkar, tidak shahih dari nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan oleh karena ini, tidaklah pantas seseorang untuk berdoa dengan doa ini karena tidak shahih dari rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan sesungguhnya aku mengatakannya kepada kalian hanyalah karena ditemukan di dalam beberapa perkataan pengajaran hadits tentang nasihat/pengajaran, ditemukan hadits ini di dalamnya; akan tetapi ia merupakan hadits yang tidak shahih dari nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Wahai kaum muslimin, sesungguhnya di dalam apa-apa yang datang dalam kitabullah dan di dalam apa-apa yang telah shahih dari rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dari amal-amal yang shalih telah cukup daripada apa-apa yang datang di dalam hadits-hadits dhaifah (lemah) atau maudhu’ah makdzubah (palsu lagi dusta) atas rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Dan sesungguhnya manusia itu jika beribadah kepada Allah dengan apa-apa yang telah tsabit (tetap) dari syariat-syariat Allah, maka dia telah beribadah kepada Allah atas bashirah, mengharapkan tsawabullaah (pakaian pahala Allah) dan takut ‘iqab (hukuman-hukuman)-Nya.

Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu untuk memberikan rizqi kepada kami berupa ilmu yang bermanfaat, dan amal yang shalih, dan rizqi yang baik lagi luas, dan keturunan yang baik, wahai rabb semesta alam.

Ya Allah, berilah kami ilmu berupa apa-apa yang bermanfaat bagi kami dan berilah kami manfaat dari apa-apa yang telah Engkau berikan ilmunya kepada kami.

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hasyr (59):10).

Duhai hamba Allah,

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs. An-Nahl (16):90).

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu . Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Qs. An-Nahl (16):91).

Dan ingatlah Allah Al’Azhim AlJalil, niscaya Dia mengingat kalian. Dan bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah untuk kalian.

Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar . Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-‘Ankabut (29):45).

Hari Arah Kiblat

Banyak kita yang mengenal nama pada tanggal-tanggal tertentu. Namun sepertinya jarang yang mengenal hari arah kiblat. Saya sendiri pun baru tahu setelah baca blog ini. Kenapa dinamakan hari arah kiblat? Karena menurut perhitungan, pada waktu itu matahari berada tepat di atas ka’bah di Makkah. Hari ini jatuh pada tanggal 28 Mei jam 12:18 waktu Makkah dan tanggal 16 Juli jam 12:26 waktu Makkah setiap tahun, kecuali pada kabisat dikurangi satu hari. Kalau waktu di Indonesia tinggal ditambah 4 jam (Makkah GMT+3 dan Indonesia GMT+7). CMIIW.

Karena matahari di atas ka’bah, untuk memperoleh arah kiblat pun tidak sulit, terutama di daerah-daerah yang agak jauh dari Makkah dan matahari masih bersinar pada jam tersebut (tahu kenapa?). Arah kiblat ditentukan sesuai dengan arah kebalikan dari arah bayangan matahari.

Jadi, bagi yang sedang bepergian terutama pada tanggal-tanggal tersebut di atas dan dia kesulitan untuk menentukan arah kiblat, cara ini dapat digunakan. Wallaahu a’lam.

Dai atau Thalib?

Suatu kali, aku membaca sebuah status Y!M dari temanku. Dia menulis kira-kira begini (tidak persis sama), “Sekian banyak blog menandakan banyaknya orang yang hendak menjadi da’i padahal sedikit yang menjadi pencari ilmu.” Hm, aku tertegun membaca kalimat tersebut. Memang kalau sepengetahuanku, saat ini blog bukan barang langka lagi. Bahkan untuk menulis blog, dapat dilakukan dengan gratis (misal di wordpress ini). Dan sepengetahuanku pula, orang-orang yang benar-benar mencari ilmu memang sedikit. Padahal sarana mencari ilmu juga bisa diperoleh dengan gratis (tinggal hadir, mendengarkan, memperhatikan, menghafal, dll). Dan menurutku memang benar pernyataan temanku tersebut, semakin banyak orang nge-blog namun sedikit yang menuntut ilmu.

Menurutku bukan berarti menulis blog tidak diperbolehkan. Menjadi da’i juga merupakan kewajiban. Namun akankah kita memberitahu padahal kita tidak tahu?

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”

Liwath, Gay => Bertaubatlah !!!

Oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan:

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya seorang pemuda berumur 21 tahun. Saya telah terjerat perilaku homoseksual sejak umur delapan tahun ketika ayah saya terlalu sibuk sehingga lalai mendidik saya. Saat ini saya hidup dengan perasaan bersalah dan menyesali perbuatan itu sampai-sampai saya berpikir untuk bunuh diri (saya mohon perlindungan Allah dari hal itu). Rasa pedih dan siksa bertambah dengan permintaan keluarga saya agar saya menikah. Saya mohon Anda memberi saya bimbingan tentang cara yang benar dan solusi yang tepat untuk masalah saya ini sehingga saya dapat terlepas dari kehidupan yang sangat menyiksa yang saya rasakan saat ini. Semoga Allah membalas Anda dengan yang lebih baik.

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Saya mohon kepada Allah agar melimpahkan kepada Anda kekuatan untuk terlepas dari perilaku yang Anda ceritakan. Tidak diragukan lagi bahwa perilaku yang Anda ceritakan itu adalah perilaku yang sangat keji. Akan tetapi (alhamdulillah) solusinya sebenarnya mudah, yaitu Anda segera bertaubat nasuha dengan cara sungguh-sungguh menyesali apa yang telah terjadi, berhenti total dari perilaku keji itu, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, serta bergaul dengan orang-orang yang baik, menjauhi orang-orang yang tidak baik, dan segera menikah. Jika secara jujur taubat itu, maka bergembiralah (bahwa Anda akan mendapatkan) kebaikan, keberuntungan, dan akhir yang baik. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut, artinya:

“Dan bertaubatlah kepada Allah kalian semua wahai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” [Qs. An-Nur [24] : 31]

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” [At-Tahrim : 8]

Begitu pula berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Artinya: “Taubat menghapuskan dosa yang sebelumnya.”

Artinya: “Orang yang bertaubat dari dosanya keadaannya seperti orang yang tidak punya dosa.” [Hadits Riwayat Ibnu Majah No. 4250, Thabrani X/150]

Semoga Allah melimpahkan taufiqNya kepada Anda, dan memperbaiki hati dan amal perbuatan Anda, serta menganugrahi Anda taubat nasuha dan teman-teman dari orang-orang yang baik.

[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah V/422-423]

[Disalin dari Majalah Fatawa Volume 11/Th I/1412H-2003M]

Dikutip dari: http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1439&bagian=0

Andai Dosa Busuk Baunya

Padahal, putra Al-Faruq itu telah berhaji enam puluh kali, umrah seribu kali dan memerdekakan budak seribu kali. Inilah jiwa yang bersemangat untuk berlomba, cinta akan kemajuan, tidak terpedaya oleh besarnya karya yang telah ia lakukan. Dia melihat sisi kurang dan aibnya, bukan berbangga dengan tabungan amal yang telah dikerjakannya. Karena orang yang tidak menyadari cacat diri, dia tak mungkin bisa menyingkirkan cacat itu dari dirinya.

Tapi, kebanyakan orang begitu mudah melihat aib dan kesalahan orang, meskipun sepele dan remeh. Namun betapa sulit mencari kekurangan dan kesalahan sendiri, meskipun nyata dan kentara. Umumnya manusia tak ingin dicela, tak ingin dianggap salah, meskipun penilainya diri sendiri. Hanya sedikit dari segunung dosa yang umumnya masih diingat oleh pelakunya. Di antara yang sedikit itu pun, sangat sedikit yang ditindaklanjuti dengan taubat.

Tidak demikian halnya dengan kebaikan, rasanya sulit seseorang melupakan jasa dan amal yang telah dia kerjakan. Padahal mengingat kesalahan umumnya lebih berfaedah dari mengingat kebaikan. Mengingat keburukan akan melahirkan taubat dan menggantinya dengan kebaikan. Tapi mengingat kebaikan akan mendatangkan ujub, merasa telah beramal cukup dan melalaikan taubat.

Sadar akan kekurangan diri menjadi pintu terbuka untuk menerima nasihat. Dia tidak tertarik dengan pujian orang yang justru melenakan. Untuk itulah, ketika seseorang memuji kebaikan Muhammad bin Wasi’ beliau berkata:

“Andai dosa itu mengeluarkan bau busuk, niscaya tak seorangpun betah berada di sampingku.”

Seringkali kita lupakan dosa-dosa kita. Padahal, akibat dosa itu lebih ketara dari bau busuk, jika kita merenunginya dan menganggap dosa sebagai sesuatu yang besar.

Orang yang merasa tak pernah salah, merasa diri telah sempurna, dia hanya mau dipuji, hanya mau menasehati, hanya mau mengoreksi, tidak mau dijadikan obyek dalam hal ini.

Seorang salaf pernah berkata, “Saya heran terhadap orang yang senang ketika dipuji, padahal pujian itu tak ada pada dirinya. Dan saya heran terhadap orang yang marah ketika diingatkan salahnya, padahal kesalahan itu nyata ada pada dirinya.”

Beruntunglah orang yang sibuk mencari aib sendiri, sehingga dia menahan diri dari menggunjing, mencela, dan melecehkan orang lain. Celakalah orang yang sibuk dengan aib orang lain lalu melupakan kesalahan diri sendiri. Wallahul Musta’an. [Abu Umar Abdillah]

Dikutip dari website majalah Ar Risalah [1|2] dengan beberapa perbaikan tulisan tetapi tidak mengubah isi.