Beriman Lalu Istiqamah

4 Comments


عَنْ أَبِي عَمْرو، وَقِيْلَ : أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانُ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِي فِي اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَداً غَيْرَكَ . قَالَ : قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
رواه مسلم

Dari Abu ‘Amr -ada juga yang menyebutnya- Abu Amrah Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu. Dia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam suatu perkataan yang aku tidak akan bertanya tentang hal itu kepada seorang pun selainmu.” Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Pemuda Itu …

16 Comments

Dapat sebuah perkataan yang insyaa-allaah telah masyhur, yakni tentang pemuda.

كُنِ ابْنًا مَنْ شِئْتَ وَاكْتَسِبْ أَدَبًا ، يُغْنِيْكَ مَحْمُوْدُهُ عَنِ النَّسَبِ

إِنَّ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ هَاأَنَذَا ، لَيْسَ الْفَتَى مَنْ يَقُوْلُ كَانَ أَبِيْ

Jadilah kamu anak siapa saja tetapi hendaknya kamu belajar adab, dengan begitu kamu sudah terpuji tanpa perlu memerlukan nasab yang bagus lagi. Sesungguhnya seorang pemuda (yang baik) itu adalah yang mengatakan, “Inilah aku,” dan bukanlah pemuda (yang baik) itu yang mengatakan, “Bahwa ayahku begini begini.”

مَنْ كَانَ مُفْتَخِرًا بِالْمَالِ وَالنَّسَبِ وَإِنَّمَا فَخَرْنَا بِالْعِلْمِ وَالْأَدَبِ

لَا خَيْرَ فِيْ رَجُلٍ حُرٍّ بِلَا أَدَبٍ ، نَعَمْ وَلَوْ كَانَ مَنْسُوْبًا إِلَى الْعَرَبِ

Barangsiapa yang bangga dengan banyaknya harta dan nasab, maka sesungguhnya kebanggaan kami hanya dengan ilmu dan adab. Tiada suatu kebaikan bagi seseorang yang mereka jika tidak mempunyai adab, iya memang begitu, walaupun dia dari keturunan Arab.

Bid’ah Bulan Rajab

4 Comments

Tulisan di bawah ini merupakan terjemahan dari khutbah syaikh Muhammad Shalih bin ‘Utsaimin. Sumber dapat dilihat di http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_468.shtml. Tidak seluruh khutbah diterjemahkan, hanya bagian akhir khutbah yang diterjemahkan. Apabila terdapat kekurangan / kesalahan terjemah, mohon koreksinya.

Segala puji hanyalah milik Allah, saya memuji-Nya, bersyukur kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, dan memohon ampun kepada-Nya. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang diibadahi secara haqq kecuali Allah, yang Ahad tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Allah Ta’ala telah mengutusnya dengan petunjuk dan diyn yang haqq agar Dia memenangkannya di atas segala diyn, maka dia menerangkan yang haqq dan menjelaskannya, dan berjihad untuk Allah dengan sebenar-benar jihad. Maka shalawat dan salam Allah atasnya dan atas keluarganya, dan para shahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan ihsan hingga hari kiamat.

Amma ba’du:

Sesungguhnya kita, wahai kaum muslimin, berada di bulan Rajab. Yakni salah satu dari empat bulan haram yang Allah firmankan tentangnya,

“Daripadanya ada tempat empat bulan haram.” (Qs. At-Taubah:36).

Maka janganlah engkau menganiaya dirimu di dalamnya (empat bulan tersebut), dan yang Allah Ta’ala telah haramkan di dalamnya berperang kecuali untuk membela diri. Inilah bulan-bulan yang salah satunya ialah bulan Rajab, tidaklah dikhususkan dengan sesuatu yang telah dijelaskan dari ibadah-ibadah, kecuali bulan Muharram, maka di dalamnya terdapat keutamaan berupa shiyam, dan bulan Dzulhijjah, maka di dalamnya terdapat penunaian ibadah qurban.

Sedangkan bulan Rajab, maka sesungguhnya tidak ada pengkhususannya berupa shiyam maupun qiyam, tidak ada hadits shahih dari nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Setiap hadits yang datang tentang keutamaan shalat di bulan rajab atau keutamaan shiyam di bulan rajab, seluruhnya merupakan hadits-hadits dha’if sekali, bahkan sebagian ulama telah mengatakan bahwa sesungguhnya hadits-hadits tersebut maudhu’ah (palsu) dan makdzubah (dusta) atas nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam. Maka tidaklah halal bagi seseorang untuk menyengaja (berbuat sesuatu) bersandar atas dasar hadits-hadits yang dha’if ini. Bahkan yang dikatakan sesungguhnya itu adalah hadits-hadits maudhu’, tidaklah halal bagi seseorang untuk menyengaja (berbuat sesuatu) atasnya, dan dia mengkhususkan bulan rajab dengan shiyam atau shalat. Tidak halal.

Karena itu adalah bid’ah, dan nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda, “Setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu di neraka.” Dan aku telah mendengar bahwasannya sebagian saudara-saudara pendatang (imigran) ke negeri kita berpuasa hari kemarin dikarenakan hari pertama dari bulan Rajab dan sebagian mereka beralasan bahwa hal ini telah umum diketahui di antara mereka di negeri mereka.

Akan tetapi saya berkata kepada mereka sesungguhnya ini adalah bid’ah dan sesungguhnya tidak boleh seseorang untuk mengkhususkan suatu waktu ataupun tempat dengan ibadah yang Allah dan rasul-Nya tidak mengkhususkannya dengannya. Oleh karena kita beribadah dengan syari’at Allah, bukan dengan hawa nafsu kita dan bukan dengan kecenderungan kita dan keinginan kita. Sesungguhnya wajib atas kita untuk berkata “Kami mendengar dan kami taat, kami mengerjakan apa-apa yang Allah perintahkan dan meninggalkan apa-apa yang Allah larang, dan kami tidak mensyariatkan diri-diri kami dengan ibadah-ibadah yang Allah dan rasul-Nya tidak mensyariatkannya.”

Sesungguhnya aku mengatakan kepada mereka yang haqq dengan jelas. Sesungguhnya bulan Rajab, tidaklah dikhususkan shalat di dalamnya, tidak di awal malam Jum’at nya, dan tidaklah dikhususkan shiyam di hari pertama dan tidak pula di hari-hari lainnya. Dan sesungguhnya bulan Rajab hanyalah seperti bulan-bulan lainnya dalam hal ibadah-ibadah. Dan sesungguhnya sekalipun dia merupakan salah satu dari empat bulan haram. Dan lupakanlah apa-apa yang dikatakan di dalamnya dari hadits-hadits dha’ifah (lemah) yang diriwayatkan dari nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam bahwasannya dia berkata jika masuk bulan Rajab, Allaahumma baarik lanaa fiy rajab wa sya’baan wa ballighnaa ramadhaan. Ya Allah, berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban dan sampaikan kami di bulan ramadhan.

Akan tetapi, hadits ini wahai saudaraku, dan dengarkanlah apa-apa yang kukatakan, ini adalah hadits yang dha’if munkar, tidak shahih dari nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan oleh karena ini, tidaklah pantas seseorang untuk berdoa dengan doa ini karena tidak shahih dari rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Dan sesungguhnya aku mengatakannya kepada kalian hanyalah karena ditemukan di dalam beberapa perkataan pengajaran hadits tentang nasihat/pengajaran, ditemukan hadits ini di dalamnya; akan tetapi ia merupakan hadits yang tidak shahih dari nabi shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Wahai kaum muslimin, sesungguhnya di dalam apa-apa yang datang dalam kitabullah dan di dalam apa-apa yang telah shahih dari rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam dari amal-amal yang shalih telah cukup daripada apa-apa yang datang di dalam hadits-hadits dhaifah (lemah) atau maudhu’ah makdzubah (palsu lagi dusta) atas rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Dan sesungguhnya manusia itu jika beribadah kepada Allah dengan apa-apa yang telah tsabit (tetap) dari syariat-syariat Allah, maka dia telah beribadah kepada Allah atas bashirah, mengharapkan tsawabullaah (pakaian pahala Allah) dan takut ‘iqab (hukuman-hukuman)-Nya.

Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu untuk memberikan rizqi kepada kami berupa ilmu yang bermanfaat, dan amal yang shalih, dan rizqi yang baik lagi luas, dan keturunan yang baik, wahai rabb semesta alam.

Ya Allah, berilah kami ilmu berupa apa-apa yang bermanfaat bagi kami dan berilah kami manfaat dari apa-apa yang telah Engkau berikan ilmunya kepada kami.

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Hasyr (59):10).

Duhai hamba Allah,

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs. An-Nahl (16):90).

Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu . Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Qs. An-Nahl (16):91).

Dan ingatlah Allah Al’Azhim AlJalil, niscaya Dia mengingat kalian. Dan bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya, niscaya Dia akan menambah untuk kalian.

Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar . Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al-’Ankabut (29):45).

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.